Tentang Da Vinci Code
Sudah cukup lama aku membaca novel kontroversial ini yang menurutku terlalu menyudutkan penganut agama langit, terutama penganut Katholik, dan terlalu mengagung-agungkan kepercayaan pagan. Data yang dituliskan dalam novel itu memang luar biasa, kalo aku punya sepuluh jempol, maka akan kuacungkan seluruhnya untuk riset yang telah dilakukan oleh Dan Brown beserta tim-nya. Perangkaian kisahnya pun cukup menarik sehingga menimbulkan thriller yang lumayan menegangkan. Namun story endingnya bagiku biasa-biasa saja, gak cukup menarik karena ada pergeseran masalah kepercayaan orang seluruh dunia berubah menjadi masalah keluarga yang telah lama terpisah dan akhirnya dapat berkumpul kembali. Karena ending yang cukup mengecewakan, maka "The Da Vinci Code" kupikir masih kalah seru jika dibandingkan dengan Arok-Dedes nya mbah Pram.
Namun ternyata, teman kostku yang dulunya gak tertarik dengan novel ini, ternyata sekarang menjadi tergila-gila dengan novel ini. Da Vinci Code yang harus kukatamkan dalam 2 minggu, dia babat hanya dalam waktu tiga hari. Program rerun tayangan dokumenter Da Vinci Code dalam saluran National Geographic pun selalu dia tunggu. Bahkan terakhir (pada hari pertama tahun ini) dia membeli sebuah DVD yang berisi film dokumenter tentang Da Vinci Code dimana di dalamnya lebih banyak membahas tentang simbol pentagonal yang begitu penting dalam mengungkap rahasia yang disimpan oleh Priory of Sion, Templar, Masonik dan lain-lain. Dalam percakapan sehari-hari pun, temanku ini tidak pernah berhenti mengajak diskusi tentang data dan fakta yang ditampilkan dalam Da Vinci Code, bahkan kadang-kadang kami pun bercanda dengan berbagai data dan fakta dalam novel itu.
Rasanya ingin sekali suatu saat menulis opiniku tentang berbagai data yang dikemukakan dalam Da Vinci Code. Tapi kayaknya butuh waktu yang panjang dan tidak akan mungkin untuk diselesaikan dalam waktu singkat. Berbagai pustaka sudah kukumpulkan sebagai landasan pengetahuan, namun untuk menuangkan dalam tulisan yang relatif objektif, tampaknya bukan suatu hal yang mudah. Aku hanya ingin berkata singkat, bahwa Da Vinci Code hanya mengajak kita untuk menghindari konsep Tuhan orang Yahudi, Kristen dan Islam, lalu mengembalikan kita ke konsep paganisme Mesir kuno yang ujung-ujungnya adalah ateisme seperti yang telah dilakukan oleh Fir'aun.
Teman bule ku, si David McRae bahkan merasa "di kuno kan" saat dikatakan sebagai penganut Protestan yang taat. Dengan tegas dia mengatakan bahwa hanya neneknya lah yang menganut Protestan, sedangkan ortu nya plus dia dan saudaranya adalah ateis. Kalau melihat nama "Mc" yang dia punya, mungkin dia memiliki darah Skotlandia, negara dimana materialisme dan paganisme mesir kuno pertama kali mendapat tempat di Eropa pada abad pertengahan. Jadi masuk akal jika dia memilih menjadi ateis.
BTW si David yang ateis ini masih takut pada hantu...hehehe, materialis kah dia?

<< Home