Monday, December 12, 2005

10 Desember

10 Desember '96, sekolompok anak muda yang punya smangat untuk Indonesia yang lebih baik berkumpul di selasar Fisipol UGM. Dari sebuah pemikiran, maka muncullah sebuah student club yang diberi nama "Freedom", yang juga akan menjadi nama sebuah "selebaran" yang berisi ide-ide pemberontakan terhadap kekuasaan Suharto. Ide-ide kuat seperti kritik terhadap PEMILU waktu itu, pelaksanaan HAM dan kemardekaan bagi Timor Leste pernah dimuat pada "selebaran" itu. Bahkan kabarnya "selebaran" itu menjadi koleksi kejaksaan tinggi setempat.
10 Desember 1997 kami merayakan hari deklarasi hak asasi manusia sedunia dan merayakan ultah pertama "Freedom". Sebuah demo yang waktu itu sangat tabu, kami gelar. Demonstrasi yang seharusnya hanya bisa di dalam kampus, kami usung keluar. UGM tak perlu lagi mendengar suara kami, giliran masyarakat yang mendengarnya. Berbekal taktik kucing-kucingan dan kelihaian Korlap, kami berhasil membawa sepasukan demonstran ke depan pasar terban. Namun di sana kami dihadang Pak Polisi. Kuldesak (gak ada jalan keluar), dan terpaksa kami berorasi di sana. Jalan itu diapit pertokoan yang sangat rapat, sehingga saat jalan didepan dan dibelakang kami sudah diblokir polisi, tidak ada jalan lain untuk melarikan diri. Penangkapan tinggal menunggu waktu. Dan benar, saat polisi bergerak dengan pentungannya, semua panik dan bubar, namun tetap tidak ada jalan keluar. Dua buah truk polisi penuh dengan tangkapan. Hanya sedikit yang berhasil lolos. Dan disitulah aku mulai melihat bahwa polisi pun tega memukulkan "kenut"nya ke wanita muda yang berjilbab. Aku yang kebetulan tidak memakai atribut demonstran, termasuk yang berhasil lolos (hanya dengan cara bersandar pada sebuah mobil mewah yang kebetulan parkir, dan pak polisi mungkin mengira bahwa aku pemilik mobil itu hehehe). Sampai di kampus, aku coba mencari kawan lainnya, dan sial, seorang teman karib terpaksa harus dirawat di rumah sakit karena terkena pentungan polisi. Tapi dari sanalah, keberanian kami muncul dan mendorong demo-demo besar lainnya yang ujungnya juga menyumbang runtuhnya kekuasaan Suharto. Suharto jatuh, kami pun kehilangan smangat, pikiran dan kesatuan pandang sudah bergeser, tiap orang punya pikiran sendiri-sendiri, walaupun masih sering bersama, kami menjadi lebih pragmatis. Dan aku memilih menjadi yang paling pragmatis dan menjauh dari komunitas Freedom yang bisa dikatakan "hidup segan, mati tak mau".
10 Desember 2005, seorang kawan lama (anggota Freedom juga) ngajak ngumpul, aku membayangkan indahnya idealisme yang pernah kami bangun walaupun ambruk tapi kupikir masih berbekas dan membentuk jiwa kami sampai saat ini. Namun sayang, baru 11 Desember 2005 kami bisa kumpul. Aku, Houtman, Ian (plus istri dan anaknya) berkunjung ke apartemen Aris (dan Citra, istrinya). Ah pemuda Godean ini borju juga, pikirku. Tapi itu kan pilihan hidup. Selepas dari apartemen Aris kami menyambangi Ade di Tangerang. Cewek yang getol dengan ide feminis itu sekarang udah berkeluarga dan punya tiga anak, Laras, Indi dan Atar. Hal yang tak bisa kubayangkan 9 tahun yang lalu saat kami bersama-sama membangun Freedom. Seorang kawan yang dulu sangat getol dengan sosialisme komunisme, sekarang kabarnya menjadi redaktur majalah hedon pria. Hhhhhh entahlah ideologi memang hanya sebatas nasi. Mana yang bisa memberi kita hidup dan kenikmatan, itulah yang kita pilih. Dan akupun gak jauh berbeda.
Tapi tidak ada salahnya kita sedikit mendengar kata nurani dan memulai dari yang paling sederhana, bukannya uang yang kita cari, tapi kenikmatan yang bisa dihasilkan oleh uang itu. Dan mungkin kenikmatan itu bisa lahir saat kita sering berbagi, saling mengasihi, saling mencintai, sebelum kita semuanya mati. Dan tidak ada hal yang lebih penting dari nyawa manusia, kecuali Allah SWT.