Wednesday, June 11, 2008

genderuwo

Entah kenapa, tadi pagi selama berdiri di transjakarta, teringat kisah masa kecil yang dituturkan begitu menarik dari mulut ke mulut. Setiap mulut, akan memberikan nuansa baru pada kisah yang sama. Cerita menjadi semakin hidup dan semakin menarik. Itulah indahnya budaya tutur.
Begini... ada seorang nenek -nenek yang sangat tangguh- penjual makanan kecil yang biasa nonkrong di sekolahku (waktu itu aku masih SD). Kehidupan yang keras membuat tubuhnya bungkuk karena begitu banyak beban yang harus digendong. Dalam posisi berdiri normal, kaki dan badannya nyaris membentuk sudut siku-siku. Namun ketangguhannya membuat dia mampu berkeliling dari desa ke desa -jalan kaki- untuk menjajakan makanan kecil, menapaki jalanan desa yang naik turun.
Alkisah, suatu senja selepas menjajakan dagangan di kampung-kampung, si nenek melangkahkan kaki menuju rumah, melewati sebuah gundukan bukit kecil. Saat senja benar-benar temaram, dan jalanan susah dikenali oleh mata si nenek yang uzur. Obor, teman sejatinya saat gelap, dikeluarkan dengan harapan bisa membantu pandangan saat cahaya sudah menjadi barang langka. Sayang... tak ada batang korek api untuk menyalakan obor... entah ketinggalan atau hilang dimana.
Wah gawat juga kalau harus melintasi jalanan desa tanpa obor, mana belum ada lampu mercury, jalan masih tanah, sepi lagi... wiiiii seremmmmm. Nah ditengah kegelapan dan harapan mendapatkan penerangan, si nenek melihat secercah cahaya merah, mirip nyala api, di puncak bukit di bawah sebuah pohon rindang. Dengan semangat, si nenek mendaki gundukan tanah yang hanya setinggi 5 meteran itu. Didekatinya cahaya merah api itu, diamati dan nampaknya seperti kayu yang ujungnya terbakar seperti bara. Wah, girang nian si nenek, akhirnya dapat juga pengganti obornya. Dengan sekuat tenaga dipegangnya pangkal kayu yang ujungnya membara dan coba untuk dipatahkan. Tiba-tiba terdengar suara meraung seperti guntur yang menggelegar... darrrrr... si nenek kaget, sejurus kemudian nenek melihat bara api itu terbang menjauh... pergi... dan dia melihat sosok tinggi hitam berlari menjauhinya bersamaan perginya dengan si bara api. Si nenek terbengong, mahluk apa itu?
---
Keesokan harinya, muncul headline dari mulut orang-orang kampung, bahwa si nenek TELAH MEMELINTIR KEMALUAN GENDERUWO. Wah bener-bener heboh, dan kami... anak-anak umur delapan tahunan hanya ketawa cekikikan, mengulangi lagi ceritanya... dan kembali tertawa bersama. Entah sekarang si nenek masih hidup atau sudah meninggal... tapi bagaimanapun... kisahnya (fiktif atau nyata) akan selalu kukenang. Seperti pagi tadi... dan tetap membuatku senyum-senyum sendiri, sangkain orang gila ama penumpang transjakarta lainnya.